Seni

Seni

/sêni/
kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi (luar biasa).
KBBI

Pada dasarnya, semua orang memiliki aspek seni tersendiri. Ada yang jago dalam seni lukis, literatur, menari, menyanyi, bermain musik, drama, dan lain sebagainya. Kali ini aku akan cerita tentang estetika, seni, budaya, dan era modern di mana seni itu sendiri sangat luas cakupannya. Aku bukanlah seorang yang pakar dalam seni. Cerita aku bisa saja salah, dan aku sangat mendukung kamu untuk mengkaji ulang, melihat seni lebih dalam, dan mempunyai filosofi seni kamu sendiri. Yoklah, baca ceritanya.

Seni dan Budaya

Kata “seni” sendiri berasal dari bahasa Sansekerta “sani” yang artinya persembahan, pelayanan dan pemberian yang tulussumber. Seni sudah ada jauh sebelum kita lahir dan sepertinya sudah tertanam di dalam diri manusia seiring berjalannya evolusi. Dalam kategori klasik, seni hanya mencakup lukisan, arsitektur, dan ukiran. Kini, seni mencakup banyak aspek dalam kehidupan dan cakupannya sangat lebar. Namun, semuanya itu tidak terlepas dari definisi yang aku kutip. Seni, sedari dulu sampai sekarang, adalah pemberian yang tulus. Pemberian yang tulus seorang pekerja seni terhadap dirinya sehingga karya seni tersebut mempunyai nilai yang tinggi.

Seni adalah bagian dari kebudayaan. Yang doyan main game 4K strategy Civilization, pastinya tau dan paham budaya itu seperti apa dan bagaimana dampak seni terhadap peradaban. Umumnya di Indonesia, seni yang kita rasakan ada dalam bentuk kerajinan, literatur, musik, ukiran, dan tarian. Peradaban kita dibentuk sedemikian rupa oleh kebudayaan dan pastinya bentuk kesenian yang berbeda dari berbagai daerah. Entah bagaimana, ternyata, salah  satu bentuk seni tertua yang ditemukan berasal dari Indonesiasumber. Walaupun hal ini masih dalam perdebatan, namun kita tetap bisa merasa bahagian karena leluhur kita dulu sudah mengerti cara mengukir.

Sebagai orang Batak, menurut aku seni dari budaya suku Batak dapat dibagi secara garis besar menjadi, kerajinan, musik, tari, ukiran, dan literatur. Kerajinan yang aku maksudkan di sini adalah ulos dan literatur yang aku maksud adalah berbagai legenda dan cerita dari zaman nenek moyang. Lah, bukannya sama aja kaya suku lainnya? Ya itu tadi, kan, berbeda tariannya, tapi sama sama tarian. Atau biar lebih relatable, beda pola, tapi sama sama songket dari Indonesia. Jujur, menurut aku literatur adalah hal yang sangat mempengaruhi kehidupan berbudaya berbagai suku di Indonesia. Sebagai contoh, dalihan na tolu bagi orang Batak dan nasihat-nasihat serta kisah yang menjadi lakon dalam kakawin Jawa kuno.

Seni dan Manusia

Aku dan kamu ga bisa bilang seenaknya kalau si A bego bikin karya seni, tentunya kalau kamu kritikus spesial untuk karya seni, ya bolehlah. Seni itu sendiri persembahan, pelayanan, hasil kreatifitas diri pembuatnya. Dengan segala akal budi manusia, kita adalah karya seni pencipta kita. Coba liat di youtube, tumblr, deviantart, soundcloud, reddit, dan berbagai web lainnya, betapa banyak karya seni orang orang. Itu adalah karya mereka, karyamu tidak harus sama dengan mereka. Karyamu tidak harus diakui semua orang untuk jadi sebuah karya seni.

Tahu Michaelangelo, tukang pahat dari Florence yang melukis Sistine Chapel? Tukang pahat, melukis bukanlah bidangnya. Dia hanya butuh pengakuan dari satu orang, Paus Julius II. Dia buat karya itu 4 tahun. 4 tahun melakukan yang dia engga doyan. Terus apa yang bikin dia bisa buat mahakarya itu? Perseverance (bukan item dota) atau dalam bahasa Indonesia, ketekunan. Bukan berarti aku menyuruhmu buat ngelakuin hal yang kamu ga sukain. Lengkap cerita abang itu bisa kalian tonton di film The Agony and the Ecstasysumber.

Yang sering manusia rasakan dalam karya seni adalah, aku tidak bisa seperti itu. Bayangkan kalau semua manusia berpikir begitu, terus minder. Ga mau ah coba melukis, lukisan aku jelek. Ga mau ah nyanyi, suara aku jelek, serak serak. Gitu aja sampe akhir zaman, sampe bumi ini hanya hitam, putih, sama abu abu. Kalo ga pucat, ya gelap karena tidak ada yang mau membuat karya seni. Louis Armstrong juga serak, pede aja nyanyi. Karya Frida Kahlo juga ga terlalu diapresiasi kritikus, tapi doi berani berani aja. Sama seperti si Michaelangelo, mereka tetap tekun.

Dari dulu itu manusia sudah berseni, jangan merasa diri sendiri tidak mempunyai seni. Satu video yang menginspirasi aku untuk menceritakan hal ini adalah dari Kurzgesagt yang bisa diakses di linksumber. Kalau kalian tonton videonya, kebayang ga, kalau seni dari zaman purba dulu masih aja dilakukan di zaman modern. Seni itu sudah ada dari dulu dan kita tinggal mengembangkannya. Berkembangnya budaya membuat manusia bisa memproduksi lebih banyak karya seni. Berkembangnya teknologi membuat manusia lebih mudah mengakses karya seni.

Seni dan Kehidupanku

Dari kecil aku sangat dipengaruhi sama karya seni dalam bentuk literatur, kartun, musik klasik, dan lukisan. Ini bukan karena memang mau, tapi ga ada pilihan. Dulu saya sering di rumah bersama nenek saya karena kedua orang tua bekerja. Sumber hiburan dulu hanya buku, komputer, dan tv. Di komputer, kebetulan ada Encarta Encyclopedia diinstall, jadi tiap hari baca itu aja, itu aja sampe bosan. Abis baca, ya main game Tyrian. Kalo rumah udah rame, baru bisa main main keluar karena kalau ga ada bapak sama emak, ga dikasih keluar rumah sama nenek. Dan aku itu orangnya super malas dan ga mau mencoba yang baru. Udah tau satu, yaudah itu aja sampe kapan tau.

Men, biarpun dibilang emak kalau suara aku harusnya bagus, sama seperti opungku atau apalah, tapi yang aku lakuin adalah malas malasan dan ga mau latihan. Asal ada lomba nyanyi sekolah minggu, disuruh ikut. Nyanyinya seadanya aja udah asal jadi biar ga dimarahin sama emak dan guru sekolah minggu. Sekarang, gimana dong, aku kan ga jago dalam bikin ulos, main gondang, apalagi bikin sajak dalam bahasa Batak. Untungnya sekarang malasnya sudah banyak berkurang. Ga pake muluk muluk, ketika ke Jakarta untuk kerja, aku pengen banget jadi yang pertama bisa main alat musik dari keluargaku. Waktu natal IA-del tahun 2012, aku pertama kali ngerasa kalau aku harus bisa main biola. Awalnya coba coba, belakangnya candu. Main biola terus biarpun satu kosan kesel karena suaranya kaya angsa dicekek. Sekarang, sudah level amatirlah dalam main biola.

Ingat, seni mempunyai banyak bentuk dan nilai estetika tersendiri. Dulu, guru seni lukis aku ngomel karena aku dan teman aku menggambar langit warna merah. Kami dikira mengharapkan kebakaran terjadi karena kebetulan temanya adalah langit Jakarta, dan kami berdua kebetulan lebih sering nonton kartun daripada main main di luar dengan teman teman sekompleks perumahan. Nilai yang kami rasa benar dan sesuai pastinya tidak dirasa sesuai oleh guru seni lukis kami pada waktu itu. Tentunya itu bukan jadi masalah besar selain nilai kami jelek. Bagaimana kami menyikapinya yang jadi masalah. Kami tetap cuek toh yang bikin kami, yang nikmatin kami. Kami juga tetap stay persistent dalam seni yang kami tekuni. Yang mau aku bilang adalah, di era modern ini, seni punya bermacam wujud dan butuh dorongan diri sendiri untuk membuat karya seni.

Seni dan Kehidupanmu

Seni tidak lagi hanya dalam bentuk lukisan, ukiran, atau arsitektur. Alasan aku mendukung kamu untuk melihat seni dari sisimu sendiri, biar kamu tahu, kalau belum tahu, kalau kamu itu mempunyai hasrat seni tersendiri.

Sekarang semua bentuk produk dari kretivitas bisa dianggap sebagai sebuah bentuk seni. Tentunya jangan kelewat kretif sampai mengganti modul yang sudah jalan di sistem sampe error ke mana mana. Kamu doyan masak, ketika kamu ganti isi resep dan mencoba hal baru, membuat berbagai bentuk garnish, dan mencoba membuat sebuah menu dari menu dasar, kamu sudah membuat satu karya seni. Masakanmu adalah persembahan yang tulus buat dirimu sendiri, hasil dari kreatifitas diri sendiri, dan memiliki nilai estetika tersendiri. Kamu suka koding, waktu kamu buat definisi programmu, sedikit sedikit modulnya kamu bangun, perlahan yang kamu buat adalah sebuah karya seni. Programmu adalah hasil dari kreatifitasmu (dan copas stackoverflow) dan merupakan pelayananmu terhadap komunitas programming atau client. Terus bentuk estetikanya di mana? Kurang indah apa modul atau API yang bisa dipanggil melalui jaringan sama program lain manapun asalkan sudah kenalan dengan bagi bagi definisi?

Mulai dari yang kecil, kamu nyanyi di kamar mandi, kamu melakukan kegiatan seni (nyanyi bukan mandinya). Kamu bikin koding rapi, terdokumentasi secara garis besar, kamu membuat karya seni. Kamu buat bentuk bentuk hewan pakai tangan dan bayangan dari cahaya, kamu sedang memperagakan seni. Kamu pidato atau presentasi di depan teammu, lalu mereka merasa tertarik untuk menggarap project yang kamu propose, kamu menanamkan ide seni di teammu. Kamu memfoto kegiatan orang orang di berbagai kota di seluruh dunia, arsitekturnya, kamu juga melakukan kegiatan seni. Karya kreatifmu yang kamu pakai untuk mengkomunikasikan isi pikiranmu, itu adalah salah satu bentuk seni.

Aku, kamu, semua manusia, bisa dibilang tidak bisa hidup tanpa seni. Entah itu jadi penikmat seni, atau jadi pembuat karya seni. Pahamilah kalau manusia tidak bisa hidup tanpa seni. Kamu mau mulai senimu, mulailah. Kamu ga harus buat satu mahakarya yang fenomenal. Mulai dari yang sederhana untuk ditekuni. Selamat berseni!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *